PENDAHULUAN
Islam merupakan
ajaran agama yang tidak menerima pertentangan dan juga pemisahan antara
kehidupan rohaniyah atau keduniawian, antara akal dan hati juga antara ilmu dan
amal. Justru dari beberapa hal di atas merupakan beberapa aspek yang memang
harus dikaji oleh umat. Dalam peradaban umat islam telah dijumpai berbagi macam
pemikiran yang berkembang dalam islam masing-masing mempunyai corak tertentu. Ada
3 konsep pemikiran yakni Tuhan, Alam, dan manusia. Sudah menjadi keyakinan umat
Islam, Allah adalah pencipta dan Alam semsta Adalah ciptaan-Nya. Namun banyak
perbedaan pendapat dalam memahami penciptaan. Para pemikir islam seperti
filosof islam, ilmu pengetahuan islam, dan manurut agama islam itu sendiri
berbeda pendapat tentang penciptaan alam jagat raya ini. Maka dari itu
pemakalah akan membahas salah satu konsep pemikiran yakni pemikiran pendidikan
islam yang berbasis Alam jagat raya.
Rumusan Masalah
1.
Apa itu Alam?
2.
Apa saja teori yang membahas tentang Alam ?
3.
Bagaimana hubungan pendidikan dengan Alam?
Tujuan Masalah
1.
Mengetahui apa itu Alam.
2.
Mengetahin teori-teori yang membahas tentang Alam.
3.
Mengetahui bagaimana hubungan Alam dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Alam
Istilah alam
disini dalam arti alam semesta, jagat raya, yang dalam bahasa inggris
diistilahkan dengan arti universe dan dalam bahasa arab yakni عالم . ‘alam dalam al-Quran tidak sama dengan istilah ‘alam yang
dimaksud kaum teolog dan kaum filosof islam. Kaum teolog mendefinisikan ‘alam
ialah segala sesuatu selain Allah. Sementara kaum filosof islam
mendefinisikanya ialah kumpulan jauhar yang tersusun dari maddat (materi) dan
shurat (bentuk) yang ada di bumi dan di langit. Sedangkan ‘alam yang
dimaksudkan Al-Quran, sebagai kumpulan
yang sejenis dari makhluk tuhan yang berakal atau memiliki sifat-sifat yang
mendekati makhluk yang berakal. Arti ini didasarkan pada kata ‘alamin yang
menunjukkan muzzakar yang berakal. Sebab itu dikenal alam malaikat, alam manusia,
alam jin, alam tumbuhan dan lainnya, tetapi tidak dikenal istilah alam batu dan
alam tanah.[1]
B.
Teori tentang Alam Jagat Raya
Menurut
Murthada Muthahari ada tiga konsepsi tentang alam semesta: ilmu pengetahuan,
filsafat, dan agama.
1.
konsepsi alam jagat raya
menurut ilmu pengetahuan ini merupakan buku purba, yang halaman pertama dan
terakhirnnya sudah hilang atau tidak diketahui. Menurut ilmu pengetahuan ciri-ciri alam ini
berubah-ubah hari ke hari, karena ilmu pengetahuan didasarkan pada perpaduan
teori dan eksperimen, bukan didasarkan pada kebenaran rasional yang jelas. Ilmu
pengetahuan tak dapat memberikan
gambaran umum tentang alam semesta. Ilmu pengetahuan hanya menjelaskan
sebagian kecil tentang alam semesta yaitu bagian yang hanya dapat diobservasi
dan diuji coba.[2]
Dalam menjelaskan proses penciptaan alam semesta, kosmologi modern berpegang
kepada teori big bang (ledakan besar), menurut teori ini alam semesta
sebelumnya teremas yang kemudia sekitar 15 milyar tahun yang lalu meledak,
pecah berkeping-keping dengan dahsyatnya. Pecahan inilah yang akan menjadi
atom, bintang-bintang, galaksi-galaksi bergerak saling menjauh dan akan terus
bergerak. Pandangan di atas diperkuat oleh hasil observasi radio astronomi Arno
Prnzias berkebangsaan amerika serikat menemukan bahwa gelombang mikro
mendatangi bumi dari segala penjuru alam semesta yangtersisa dari peristiwa big
bang.[3]
2.
konsepsi alam semesta
menurut filsafat tidak bersifat terperinci dan spesifik. Menurut Al-Farabi
seorang filsuf dan Ibnu Sina sependapat alam jagat raya adalah diciptakan oleh
Alah Swt. Melalui teori emanasi (pancaran), menurut Al-Farab, bahwa Allah sebagai
Wujud I berpikir tentang diri-Nya, dan dari hasill pemikiran-Nya itu timbullah
wujud II akal I, wujud II akal I berpikir tentang Tuhan lahirlah Wujud III akal
II, dan ketika berpikir tentang dirinya, maka lahirlah langit pertama. Wujud II
akal II berpikir tentang tuhan lahirlah wujud IV akal III, berpikir tentang
Tuhan lahirlah wujud V akal IV, dan ketika berpikir tentang diirinya maka
lahirlah saturnus, wujud V akal IV berpikir tentang Tuhan, lahirlah wujud VI
akal V, dan keetika berpikir tentang dirinya lahirlah Jupiter. Wujud VI akal V
berpikir tentang Tuhan lahirlah wujud VII akal VI, dan ketika berpikir tentang
dirinya maka lahirlah Mars. Wujud VII akal VI berpkir tentang Tuhan, lahirlah
wujud VIII akal VII, dan ketika berpikir tentang dirinya lahirlah matahari.
Wujud VIII akal VII berpikir tentang Tuhan lahirlah wujud IX akal VIII dan
ketika berpikir tentang dirinya lahirlah pluto, wujud IX akal VIII berpikir
tentang dirinya lahirlah mercury. Wujud X akal IX berpikir tentang Tuhan
lahirlah wujud XII akal x, dan ketika berpikir tentang dirinya lahirlah bulan
selanjutnya dari akal X ini muncul bumi dan materi asal terajdinya makhluk
yaitu air, udara, api, dan tanah, dari empat materi asal ini lahir (benda benda
keras, seperti gunung, batu, dan sebagainya), nabatiyat (tumbuh-tumbuhan),
hayawaniyah (binatang), dan insaniyah (manusia). Melalui emanasi tersebut
terdapat beberapa catatan sebagai berikut:
a.
alam jagat raya yang terdiri dari planet-planet, materi asal yang
kemudian menjadi benda-benda keras, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia itu adalah
diciptakan oleh Allah Swt, melalui proses berfikir.
b.
alam jagat raya itu amat beragam dan kaya jenisnya yang semua itu
amat dibutuhkan manusia
c.
di dalam konsep emanasi tersebut terdapat filsafat tentang wujud, yakni
wujudlah yang menyebabkan esensi tentang sesuatu menjadi tampak dalam realita.
Wujud tersebut dibagi menjadi tiga. Wajib al-wujud seperti adanya alam
mesti ada yang menciptakan, mumkin al-wujud yakni sesuatu yang boleh ada
boleh tidak misalnya manusia, mustahil wujud, yakni jika sesuatu yang
telah ada di suatu tempat, maka mustahil ia akan ada di tempat lain dalam waktu
yang bersamaan. Walaupun filsafat tidak menjelaskan dengan detail tentang alam
jagat raya, namun ia sudah menggambarkan alam raya tersebut secara keseluruhan
dan saling berkaitan.[4]
Ibnu Rusydi berpendapat tentang Alam Akhirat, menurutnya ada Alam
yang qadim yakni alam akhirat yaitualam lain yang leebih tinggi dari padaalam
dunia, untuk memahami cara berbangkit di akhirat nanti, maka itu tergantung
atas tingkat ilmu yang dimiliki seseorang. Orang umum berpendapat bahwa berbangkit
itu dengan tubuh kasarnya. Orang khusus hanya dengan rohaninya saja.[5]
3.
Konsep alam raya menurut agama islam, jauh lebih lengkap
dibandingkan dengan konsepsi alam menurut ilmu pengetahuan dan filsafat. Islam
tidak hanya menggambarkan alam jagat raya dari segi jenis dan macamnya,
melainkan juga dari segi proses penciptaannya, sifat dan karakter yang
dimilikinya, maksud dan tujuan penciptaannya.
Al-Quran
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan alam adalah segala sesuatu yang selain
Allah atau segala sesuatu yang diciptakan Allah. Menurut islam alam jagat raya
bukan hanya planet-planet, jamadat, nabatiyah, hayawaniyat dan insaniyat
melainkan juga alam ghaibat, seperti alam akhirat, alam kubur, surga, neraka,
malaikat, jin, setan, dan sebagainya. Macam dan ragam alam dalam islam jauh
lebih lengkap.
Dari
segi proses penciptaannya Al-Quran menyatakanbahwa langit dan bumi pada mulanya
adalah satu kesatuan, lalu dipecahkan, dan pecahan tersebut saling menjauh
membentuk planet-planet, dan segenap benda-benda alam lainnya. Hal ini
dinyatakan dalam QS. Al-Ambiyat 21:30[6]
Dalam
surat Al-Anbiyat diatas disajikan informasi pokok tentang alam (al-sama’) dan
materi (al-ardh) yang sebelum dipisahkan adalah sesuatu yang padu. Kemudian
dibicarakan pula tentang air (al-ma’) yang dari padanya dijadikan segala
sesuatu yang hidup. [7]
Selain
itu Al-Quran menyatakan: jika Allah menghendaki sesuatu maka jadilah. Berkenaan
dengan ayat ini ada dua pendapat, pertama, penciptaan dari segala
sesuatu yang tidak ada, kedua penciptaan dari sesuatu yang ada yakni penciptaan
dari materi asal (air, udara, api dan tanah)yang selanjutnya menjadi
tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Hal ini dipahami dalam firmannya QS Yaa
Siin 36:82 :
Pada
ayat lain Allah menyatakan: Dialah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi
dalam waktu enam hari. Firmannya dalamQS Al-Ma’arij 70:4
Dari
segi sifat, dan karakternya, Islam menginformasikan tentang alam dengan amat
lengkap, dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.
Patuh dan Tunduk kepada Allah
Alam
jagat raya patuh dan tunduk pada hukum yang ditetapkan Tuhan didalamnya (sunatullah).
Misalnya, tubuh fisik manusia, tunduk pada hukum pertumbuhan, mulai dari
sperma, ovum, janin, lahir sebagai bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, usia
lanjut dan akhirnya mati. Demikian pula benda-benda ruang angkasa: bulan,
bintang, matahari, dan sebagainya berjalan menurut hukum yang ditetapkan Tuhan.
b.
Memiliki ukuran yang pasti
Alam raya memiliki ukuran yang berbeda antarra
satu dan lainna. Misalnya tinggi badan, ukuran jemari, panjang gigi, hidung,
dan sebagainya.
c.
Dapat dimanfaatkan Manusia
Manusia
dapat memanfaatkan jagat raya tersebut untuk keperluannya misalnya manusia
dapat menmanfaatkan panas matahari, tegana panas bumi, dan sebaginnya.
d.
Berubah pada setiap waktu
Alam
jagat raya berubah berkembang yakni apa yang ada dilangit dan bumi.
e.
Memiliki sifat dan karakter
Alam
jagat raya memiliki karrakter. Pohon pisang misalnya karakter sebelum mati
harus berubah dan memelihara keturunan, batangnya digunakan untuk tali, daunnya
untuk bungkus kue-kue, jantungnya enak dimakan, getahnya untuk mengobati luka,
dan buahnya enak dan bergizi.
f.
Selalu Memberi Manfaat pada Manusia
Alam
selalu memberi manfaat pada manusia dan ia tidak diciptakan secara sia-sia.
Allah Swt berfirman dalam QS Ali Imran 3:190-191
g.
Senantiasa Bertasbih kepada Allah.
Alam
semesta senantiasa bertasbih kepada Allah Swt, namun manusia tidak mengerti
cara alam bertasbih.
h.
Alam Akan Rusak Binasa
i.
Saling berhubungan
Saling
berhubungannya alam misalnya tumbuh-tumbuhan amat bergantung kepada kesuburan
tanah, dan tumbuh-tumbuhan itu juga dapat mempersuburkan tanah.
Selanjutnya
dari segi fungsi dan kedudukannya, alam jagat raya memiliki fungsi dan
kedudukan sebagai berikut.
a.
Sebagai Bukti Kekuasaan Allah Swt.
b.
Sebagai Sumber Kehidupan Manusia
c.
Sebagai Objek kajian Ilmupengetahuan
d.
Sebagai Pendukung Ayat-ayat Al-Qur’an
e.
Sebagai Bahan Perumusan Konsep Tauhid
C.
Hubungan Alam dan Pendidikan
1.
Visi pendidikan yang berbasis alam adalah menjadikan pendidikan
sebagai sarana yang unggul terdepan dan strategis dalam memberikan kemampuan
kepada masyarakat dalam memberdayakan segenap potensi alam secara cerdas,
cermat, bijaksana, dan amanah, sehingga dapat menimbulkan kesejahteraan
masyarakat tanpa merusak ekosistem lingkungan.
2.
Misi pendidikan yang berbasis alam adalah : memperkenalkan alam
semesta, memberikan keterampilan dan kemampuan dalam mengelola alam, memberikan
kemampuan dan keterampilan dalam mengelola alam, memberi keterampilan dalam
memelihara dan melestarikan alam semesta, memberikan pemahaman yang mendalam
berdasarkan petunjuk Al-Quran dan al-Sunnah yang menunjukkan bahwa alam sebagai
ciptaan Allah Swt. Dan alat yang digunakan untuk mengenal dan bersyukur
bersyukur kepada-Nya.
3.
Proses belajar mengajaryang berbasis alam tidak hanya terbatas di
dalam kelas melainkan memanfaatkan juga alam lingkungan sekitar. Ketika
mengajar mata pelajaran fisika, kimia, biologi, kebudayaan, dan lainnya dengan
mengajak peserta didik untuk memanfaatkan alam jagat raya.
4.
Dalam merancang lingkungan pendidikan yang berbasis alam dilakukan
dengan cara memilih lingkungan yang paling tepat untuk mendukung kegiatan
belajar. Hal ini didasarkan kepada kenyataan [8]
BAB III
KESIMPULAN
Kaum teolog mendefinisikan ‘alam ialah segala sesuatu selain Allah.
Sementara kaum filosof islam mendefinisikanya ialah kumpulan jauhar yang
tersusun dari maddat (materi) dan shurat (bentuk) yang ada di bumi dan di
langit. Sedangkan ‘alam yang dimaksudkan Al-Quran, sebagai kumpulan yang sejenis dari makhluk
tuhan yang berakal atau memiliki sifat-sifat yang mendekati makhluk yang
berakal.
Menurut ilmu pengetahuan
ciri-ciri alam ini berubah-ubah hari ke hari, karena ilmu pengetahuan
didasarkan pada perpaduan teori dan eksperimen, bukan didasarkan pada kebenaran
rasional yang jelas.
menurut filsafat tidak bersifat terperinci dan spesifik. Menurut
Al-Farabi seorang filsuf dan Ibnu Sina sependapat alam jagat raya adalah
diciptakan oleh Alah Swt. Melalui teori emanasi (pancaran).
menurut agama islam, jauh lebih lengkap dibandingkan dengan
konsepsi alam menurut ilmu pengetahuan dan filsafat. Islam tidak hanya
menggambarkan alam jagat raya dari segi jenis dan macamnya, melainkan juga dari
segi proses penciptaannya, sifat dan karakter yang dimilikinya, maksud dan
tujuan penciptaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, (2013), Pemikiran Pendidikan Islam & Barat,
Jakarta: rajawali Pers.
Kahar Masyhur, (1989), Pemikiran dan Modernisme dalam Islam,
Jakarta: Kalam Mulia.
Sirajuddin Zar, (1994), konsep penciptaan alam dalam pemikiran
islam sains dan al-Quran, PT Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
[1] Sirajuddin Zar, konsep penciptaan
alam dalam pemikiran islam sains dan al-Quran, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada 1994), hal.19-20.
[6] Ibid, Abuddin Nata, Hal.
[7] Sirajuddin Zar, konsep penciptaan alam dalam pemikiran islam sains
dan al-Quran, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada 1994), hal. 128
[8] Abuddin Nata, Pemikiran
Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: rajawali Pers 2013), hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar