PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Terdapat
sejumlah pemikiran yang melatarbelakangi perlunya mengkaji filsafat manusia
dalam hubungannya dengan pendidikan. Para ahli telah banyak menyelidiki manusia
dari berbagai sudut dan segi, yang menghasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan
tentang manusia, seperti sosiologi, psikologi, agama, filsafat, dan lain-lain.
Dari hasil kajian para ahli dalam berbagai bidang tentang manusia tersebut
menghasilkan berbagai kesimpulan yang selanjutnya digunakan untuk menjadi dasar
bagi lahirnya berbagai konsep, termasuk konsep pendidikan Islam.
Terkait
dengan hal itu, makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang konsep manusia serta
hubungannya dengan pendidikan dalam pemikiran Islam.
B.
Rumusan Masalah
Sebagaimana
dipaparkan dalam gambaran umum di atas, penulis merumuskan masalah sebagai
berikut:
1.
Bagaimana konsep manusia dalam pandangan Islam?
2.
Bagaimana pandangan Islam mengenai potensi manusia?
3.
Bagaimana pandangan Islam tentang pendidikan?
4.
Apa saja hubungan konsep manusia dengan berbagai komponen
pendidikan?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui seperti apa konsep manusia dalam pandangan Islam.
2.
Untuk mengetahui bagaimana potensi manusia dalam pandangan Islam.
3.
Untuk mengetahui bagaimana
pendidikan dalam pandangan Islam.
4.
Untuk mengetahui hubungan antara konsep manusia dengan berbagai
komponen pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
MANUSIA MENURUT ISLAM
Sebagai
agama yang bersifat sempurna, seimbang, dan berdasarkan pada dalil naqli
(wahyu) dan hadis Nabi Muhammad Saw., serta ijma ulama dan qiyas (pemikiran)
atau menghargai akal pikiran dan usaha manusia, Islam dapat mempertimbangkan
seluruh pendapat tentang manusia dengan beberapa catatan sebagai berikut.
Pertama, Islam mengakui, bahwa proses penciptaan manusia terjadi melalui
proses atau evolusi, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
$ygr'¯»t
â¨$¨Z9$# bÎ)
óOçFZä.
Îû
5=÷u z`ÏiB
Ï]÷èt7ø9$# $¯RÎ*sù
/ä3»oYø)n=yz `ÏiB 5>#tè?
§NèO `ÏB
7pxÿõÜR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ ¢OèO `ÏB
7ptóôÒB 7ps)¯=sC Îöxîur 7ps)¯=sèC tûÎiüt7ãYÏj9 öNä3s9 4 É)çRur Îû
ÏQ%tnöF{$#
$tB
âä!$t±nS #n<Î) 9@y_r& wK|¡B
§NèO öNä3ã_ÌøéU WxøÿÏÛ ¢OèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£ä©r& ( Nà6ZÏBur `¨B
4¯ûuqtGã Nà6ZÏBur `¨B
tã #n<Î) ÉAsör& ÌßJãèø9$# xøx6Ï9 zNn=÷èt .`ÏB Ï÷èt/ 8Nù=Ïæ $\«øx©
4 ts?ur
ßöF{$# ZoyÏB$yd
!#sÎ*sù $uZø9tRr& $ygøn=tæ
uä!$yJø9$# ôN¨tI÷d$# ôMt/uur ôMtFt6/Rr&ur `ÏB
Èe@à2
£l÷ry 8kÎgt/
ÇÎÈ
5.
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka
(ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu
dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan
berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada
yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah
diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan
berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
Namun, evolusi
penciptaan manusia menurut Islam sangat jauh berbeda dengan teori evolusi manusia
menurut Charles Darwin. 1) Menurut Islam, bahwa evolusi kejadian manusia
tersebut bukan berasal dari jenis makhluk lainnya seperti benda zat renik,
tumbuh-tumbuhan dan binatang. Penciptaan manusia berasal dari zat yang satu
yakni turab (tanah), nuthfah (air mani), alaqah (air mani
laki-laki dan perempuan yang sudah bercampur dan menempel dalam dinding rahim),
mudghah (segumpal daging), idzam (tulang), dan lahm (daging)
yang kemudian diberi ruh oleh Allah. Manusia bukan berasal dari kera, karena
hingga saat ini tidak pernah ada kera yang berubah jadi manusia. Kalaupun di
dalam Al-Qur’an ada sekelompok Bani Israil yang disebut sebagai kera, namun
kera yang dimaksud Al-Qur’an itu adalah kera dalam arti karakternya, yaitu
serakah, tidak mengenal halal dan haram, serta perbuatan tercela lainnya. 2)
Menurut Islam bahwa proses perubahan dari satu tahap ke tahap lain tidak
terjadi dengan sendirinya, melainkan ada peran Tuhan sebagai agen yang
melakukan dan menggerakan perubahan tersebut. Hal ini berbeda dengan teori
Darwin yang mengatakan, bahwa perubahan tersebut terjadi dengan sendirinya.
Dalam hubungan ini, dalam teori Darwin terdapat mata-rantai yang terputus (missing-link),
yaitu menghilangkan peran Tuhan sebagai agen perubahan. 3) Dalam Islam manusia
bukan hanya terdiri dari unsur fisik (jasmani), melainkan juga terdapat unsur
ruhani, yaitu ruh yang dihembuskan Tuhan, dan inilah yang selanjutnya manusia
dari makhluk Tuhan lainnya, dan ini pula yang menyebabkan manusia menjadi
makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya, dan ini pula yang
menyebabkan manusia akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Tuhan di akhirat
nanti.
Kedua, Islam mengakui atau
menerima pendapat para sosilog yang mengatakan, bahwa manusia sebagai makhluk
sosial, atau makhluk yang keberadaan dan keberlangsungan hidupnya membutuhkan
keberadaan orang lain. Hal ini dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut.
$pkr'¯»t
â¨$¨Z9$# $¯RÎ)
/ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&ur
öNä3»oYù=yèy_ur
$\/qãèä© @ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9
4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã
«!$# öNä39s)ø?r&
4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã
×Î7yz
ÇÊÌÈ
13.
Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
(#qçRur$yès?ur n?tã
ÎhÉ9ø9$#
3uqø)G9$#ur
( wur (#qçRur$yès? n?tã
ÉOøOM}$# Èbºurôãèø9$#ur
4 (#qà)¨?$#ur
©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ßÏx©
É>$s)Ïèø9$#
ÇËÈ
2.
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada
Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Namun
demikian, Islam sebagai ajaran yang bersifat seimbang, di samping mengakui
manusia sebagai makhluk sosial, juga sebagai makhluk individual. Sebagai
makhluk sosial ia selain harus memerhatikan kepentingan sendirinya, juga harus
memerhatikan kepentingan masyarakat, ia tidak boleh mengorbankan kepentingan
dirinya. Intinya adalah bahwa Islam mengajarkan tentang manusia yang seimbang,
yaitu manusia yang memiliki kesalehan individual dan kesalehan sosial.
Ketiga, Islam
dapat menerima pendapat para psikolog yang menyatakan bahwa manusia dipengaruhi
oleh bakat dan kemampuan yang dibawanya sejak lahir, dan juga pengaruh dari
lingkungan. Namun, Islam tidak menerima pendapat yang bersifat antagonistik,
pragmentatif, dan dikotomis. Pada teori daya mental sebagaimana terlihat pada
aliran nativisme yang dikembangkan oleh Arthur Schopenhauer, misalnya hanya
mengakui pengaruh dari dalam atau dari bawaan. Sedangkan pengaruh dari luar
dianggap tidak ada fungsinya. Sebaliknya pada teori behaviorisme yang dikembangkan
oleh John Locke misalnya hanya mengakui pengaruh dari luar, dan mengabaikan
atau tidak mengakui faktor pembawaan. Selanjutnya, pada teori konvergensi yang dikembangkan oleh William Stern mengakui
pendapat dari dalam dan dari luar. Islam tampaknya sejalan dengan teori
konvergensi, dan telah banyak yang berpendapat sejalan dengan konvergensi
tersebut dengan merujuk pada hadis Nabi yang mengatakan bahwa “setiap yang
dilahirkan telah membawa fitrah beragama, maka kedua orang tuanyalah yang
menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Namun sebenarnya,
ketiga teori tersebut kurang sejalan dengan Islam, karena di dalam ketiga teori
tersebut tidak ada Tuhannya, atau hanya bersifat anthropocentris. Islam
menganut ideologi pendidikan yang berbasis pada humanisme teocentris. Yaitu
memadukan usaha manusia dan peran Tuhan. Dalam hubungan ini, Islam
menggambarkan mendidik itu seperti orang yang bertani, yang selain bergantung
pada pada bibit yang unggul dan bermutu (nativisme), dan tanah yang subur, cuaca
yang mendukung, air yang cukup, pupuk yang memadai, cara menanam yang baik, dan
merawat yang telaten, juga membutuhkan ketentuan Tuhan. Bahwa bibit yang unggul
dan tanah yang subur dan lainnya belum dapat menjamin bahwa tanaman tersebut
akan tumbuh subur dan berbuah. Semua itu masih membutuhkan kehendak Allah.
Dalam hubungan ini Allah Swt. berfirman, yang artinya: Tidakkah kamu
perhatikan apa yang kamu tanam? Kamukah yang menyebabkan tanaman tersebut
tumbuh dan berbuat atau Aku? (QS Al-Waaqi’ah, 56: 63-64). Jawabannya mesti
yang menentukan tanaman tersebut tumbuh dan berbuah itu amat tergantung juga
pada kehendak Allah Swt. atas dasar pandangan dan keyakinan yang serupa itu,
maka seseorang tidak dapat mengklaim, bahwa keberhasilan pertanian tersebut
hanya karena usahanya sendiri. Keberhasilan tersebut juga atas izin Allah Swt.
dalam hubungan inilah, maka di dalam Surat Luqman dinyatakan, bahwa ketika
Luqman berhasil mendidik anknya, dan anaknya itu hampir saja menomorduakan
Tuhan dalam hal menyatakan terima kasih, maka Allah Swt. menyatakan: hendaknya
engkau terlebih dahulu berterima kasih kepada-Ku, setelah itu barulah berterima
kasih kepada kedua orang tuamu (an usykur liy waliwa lidaika = hendaknya
engaku bersyukur kepada-Ku, dan kepada kedua orang tuamu).
Dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan al-Hadits tersebut,
informasi tentang manusia dapat diperoleh lebih lengkap lagi. Di dalam
Al-Qur’an, manusia digambarkan dengan istilah al-insan, al-basyar dan al-naas.
Istilah insan dipakai Al-Qur’an dalam kaitan dengan berbagai kegiatan
manusia antara lain untuk kegiatan belajar; tentang musuhnya, penggunaan
waktunya, beban amanat yang dipikulnya, konsekuensi usaha perbuatannya,
keterkaitan dengan usaha peternakan, kegiatan pelayaran, pendayagunaan logam besi,
akibat perubahan sosial, kepemimpinan, tantangan ruang angkasa, menjalankan
ibadah, dan adanya kehidupan akhirat.
Selanjutnya istilah al-basyar dipakai untuk menggambarkan
dimensi fisik, jasad atau raga manusia, seperti kulit tubuh manusia, untuk
menunjuk pada penegasan bahwa Nabi juga adalah manusia seperti pada umumnya,
yaitu makan dan minum, untuk menunjukkan pada hubungan laki-laki dan perempuan
atau persetubuhan, untuk menunjukkan manusia pada umumnya, untuk menyatakan
proses penciptaannya dari tanah, dan akhirnya akan menemukan kematian. Semua
penggunaan kata al-basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada gejala umum yang
tampak pada fisiknya, atau lahiriahnya yang secara umum antara satu dengan
lainnya mempunyai persamaan-persamaan.
Adapun kata al-naas dipakai Al-Qur’an untuk menyatakan
adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan untuk
mengembangkan kehidupannya. Berbagai kegiatan tersebut antara lain disebutkan
menyelenggarakan kegiatan peternakan, mendayagunakan kekuatan besi, melakukan
perubahan sosial, melaksanakan tugas sebagai pimpinan, dan melaksanakan ibadah.
B.
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TENTANG PENGEMBANGAN POTENSI MANUSIA
Pandangan
Islam memiliki implikasi bahwa seandainya seorang manusia dibiarkan saja tidak
menerima pendidikan maka ia dengan sendirinya akan menjadi baik, sebab manusia
diciptakan Tuhan dengan dibekali potensi kebaikan. Lain halnya apabila manusia
itu menerima pendidikan, pendidikanlah yang dipandang sebagai faktor pengaruh
dan penentu, apakah ia menjadi manusia baik atau buruk.
Permasalahannya
adalah bahwa setiap manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari faktor
lingkungan. Lingkungan pendidikan, entah itu lingkungan keluarga, sekolah
maupun masyarakat senantiasa akan memengaruhi potensi baik manusia. Di sinilah
letak pentingnya pendidikan bagi pengembangan potensi manusia. Potensi baik
manusia tidak akan berguna kalau tidak digunakan dan dikembangkan melalui
pendidikan. Potensi itu laksana segenggam emas dalam perut bumi, tidak ada
gunanya kalau tidak digali dan diolah demi kepentingan umat manusia.
Tugas
utama pendidikan sesungguhnya adalah mengubah (transform)
potensi-potensi manusia menjadi kemampuan-kemampuan atau
keterampilan-keterampilan yang dapat dimanfaatkan manusia. Potensi intelektual
misalnya, tidak ada guna nya kalau hanya disimpan di kepala. Ia akan menjadi
berguna manakala sudah diubah, melalui proses pendidikan, menjadi
penemuan-penemuan ilmiah dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penemuan-penemuan ini pada dasarnya merupakan cerminan atau hasil olahan dari
upaya pengembangan potensi intelektual manusia yang dulunya tersembunyi.
Berbagai
lembaga pendidikan yang berfungsi khusus mengembangkan potensi intelektual
manusia kiranya telah berhasil membekali manusia dengan penemuan-penemuan
tertentu. Hingga kini, lembaga-lembaga itu berhasil mentransformasikan
pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda, agar mereka tetap dapat survive.
Pendidikan pada hakikatnya bermaksud menyelamatkan dunia dari kehancuran yang
tidak wajar. Dewasa ini telah muncul suatu fenomena yang perlu dicermati dengan
serius. Pendidikan model Barat, pada satu sisi, telah dapat mengeksploitasi
potensi intelektual manusia sebesar-besarnya sehingga melahirkan teknologi yang
canggih. Namun pada sisi yang lain, pendidikan model Barat yang mereka
laksanakan telah melupakan aspek moral dan spiritual yang ada pada diri manusi.
Akibatnya, mereka berhasil menciptakan manusia modern yang hidup dalam dunia
teknologi, tetapi jiwa mereka dihinggapi dan dilanda suatu krisis yang disebut
dengan krisis moral-spiritual. Jiwa mereka hampa dari nilai-nilai seyogianya
menjadi dasar bagi kehidupan mereka. Mereka itu pandai, tetapi pada hakikatnya
adalah bodoh karena berprilaku tanpa moral dan brutal. Mereka itu kaya, tetapi
sesungguhnya mereka itu miskin, karena kekayaannya diperoleh melalui jalan yang
tidak halal. Itulah hasil dari proses pendidikan yang mengabaikan aspek moral.
Pendidikan
Islam sesungguhnya merupakan solusi. Solusi bagi penyakit yang menimpa manusia
modern. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dibangun atas dasar fitrah
manusia. Pendidikan Islam senantiasa bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang
seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek,
rasional diri, perasaan, dan kepekaan tubuh manusia. Pendidikan Islam oleh
karenanya selalu berusaha menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam
segala aspek, yaitu spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah,
linguistik baik secara individual maupun secara kolektif, dan memotivasi semua
aspek ini untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan hidup manusia.
Demikianlah
Filsafat Pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki
potensi baik (fitrah). Potensi ini harus dikembangkan sedemikian rupa,
agar manusia tetap berada dalam kebaikannya, atau bahasa agama menyebutnya hanif.
Upaya pengembangan ini merupakan tugas utama pendidikan Islam. Jadi, pada
intinya mendidik menurut Islam adalah usaha mempertahankan posisi manusia agar
tetap dalam keadaan fitrah. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat
senantiasa dikondisikan dengan sengaja agar manusia tetap dalam potensi
baiknya.
C.
PANDANGAN ISLAM TENTANG PENDIDIKAN
Agama
Islam adalah agama yang universal. Yang mengajarkan kepada umat manusia
mengenai berbagai aspek kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Salah
satu di antara ajaran Islam adalah, mewajibkan kepada umat Islam untuk
melaksanakan pendidikan. Karena menurut ajaran Islam, pendidikan merupakan
kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi untuk mencapai
kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan pendidikan itu pula
manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dan
kehidupannya.
Lebih-lebih
Islam merupakan agama ilmu dan agama akal. Karena Islam selalu mendorong
umatnya untuk mempergunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan, agar dengan
demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan aman yang salah, dapat
menyelami hakikat alam, dapat menganalisa segala pengalaman yang telah dialami
oleh umat-umat yang telah lalu dengan pandangan ahli-ahli filsafat yang
menyebut manusia sebagai Homo sapiens, yaitu sebagai makhluk yang mempunyai
kemampuan untuk berilmu pengetahuan, dan dengan dasar itu manusia ingin selalu
mengetahui dengan apa yang ada disekitarnya. Bertolak dari itu pula manusia
dapat dididik dan diajar.
Apabila
kita memperhatikan ayat-ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada
Nabi Muhammad, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan perlunya orang
belajar baca tulis dan belajar ilmu pengetahuan.
Firman
Allah dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5.
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u
Ï%©!$#
t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$#
zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB
óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
pemurah.
4. yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam[1589].
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia
dengan perantaraan tulis baca.
Dari
ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi
umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan diteruskan dengan
belajar berbagai macam pengetahuan.
Islam
di samping menekankan kepada umatnya untuk belajar juga menyuruh umatnya untuk
mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Jadi Islam mewajibkan umatnya belajar
dan mengajar. Melakukan proses belajar dan mengajar adalah bersifat manusiawi,
yakni sesuai dengan harkat kemanusiaannya, sebagai makhluk Homo educandus,
dalam arti manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik.
Sabda
Nabi.
تَعَلَّمُوْا وَعَلِّمُوْا وَتَوَاضَعُوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيِّنُوْا
لِمُتَعَلِّمِيْكُمْ {رواه الطبراني}
Artinya:
Belajarlah dan kemudian ajarkanlah kepada orang-orang lain, serta rendahkanlah
dirimu kepada guru-gurumu, serta berlaku lemah lembutlah kepada murid-muridmu. (HR.
At-Thabrani).
D.
HUBUNGAN FILSAFAT MANUSIA DENGAN BERBAGAI KOMPONEN PENDIDIKAN
Hubungan
antara konsep manusia dengan berbagai komponen pendidikan ini dapat dijelaskan
secara singkat sebagai berikut.
1.
Visi, Misi, Tujuan, dan Hakikat Pendidikan
Visi
adalah jawaban dari pertanyaan kita akan menjadi apa? (what are will
becoming?) sedangkan misi adalah jawaban atas pertanyaan apa yang akan
dikerjakan? (what are will doing?) kemudian tujuan adalah jawaban dari
pertanyaan apa yang akan kita capai? (what are to achieve?), dan hakikat
adalah pertanyaan dari pertanyaan apakah esensi masalah tersebut? (what the
essence of it?).
Dengan
pertanyaan-pertanyaan tersebut dan dengan mengacu kepada penjelasan tentang
manusia dengan berbagai potensinya, maka visi pendidikan adalah perkembangan
pembangunan yang berkelanjutan (education for sustainable development).
Visi ini sejalan dengan konsep manusia sebagai makhluk budaya yang memiliki
cita, rasa dan karsa. Dengan mengembangkan pembangunan yang berkelanjutan atau
penciptaan kebudayaan yang berkelanjutan, maka akan dapat merasakan manfaat
dari pendidikan tersebut. Untuk mengukurnya, ada tiga pilar yang bisa
digunakan. Pilar pertama, lembaga pendidikan seharusnya memberikan anak
didiknya pengetahuan seputar profesi ke mana setelah lulus? Bekerja sebagai
apa? Hingga berapa kira-kira gaji yang akan didapat? Dengan cara ini, anak dapat secara ekonomis memperhitungkan
masa depannya. Anak tidak boleh mempunyai cita-cita yang tidak bisa menjamin
kesejahteraan hidupnya. Pilar kedua adalah kebudayaan dan kemanusiaan.
Sebuah lembaga pendidikan seharusnya mampu membuat anak didik berkebudayaan,
berdemokrasi, dan menjunjung hak asasi manusia yang kini ditegakkan dunia.
Karakter ini bisa tercermin dari hal kecil. Dalam mengambil keputusan strategis
misalnya, maka sekolah yang baik akan melibatkan anak didik dan orangtuanya. Pilar
ketiga adalah ekologi dan lingkungan. Sebuah lembaga pendidikan seharusnya
menangkap semangat zaman yang sangat memerhatikan kondisi bumi. Artinya,
penggunaan energi harus dibatasi, informasi seputar penyakit seperti HIV/AIDS
disampaikan, dan pengetahuan mengenai pemanasan global diberikan.
Jika
visi dicermati secara seksama, tampak sangat dipengaruhi oleh konsep manusia,
yaitu sebagai makhluk yang harus bekerja dengan bekal pengetahuan dan
keterampilan, harus mengembangkan cita, rasa dan karsanya dengan berbudaya,
memberikan perhatian dan kepedulian terhadap lingkungannya, serta sebagai
makhluk yang harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan
kecerdasan spiritual.
Sejalan
dengan visi tersebut, maka yang harus dilakukan untuk menuju tercapainya visi
tersebut adalah: 1) Mendekatkan diri anak secara spiritual kepada Allah Swt.,
sehingga ia memiliki tujuan hidup sebagai ibadah kepada-Nya, serta memiliki
cita-cita dan tujuan hidup jangka panjang, kehidupan yang bermakna, serta
senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt., senantiasa bersyukur dan ikhlas
dalam menjalani kehidupan, baik dalam keadaan suka maupun duka. 2) Secara
emosional membuat anak mempunyai kepribadian yang matang dan akhlak mulia. 3)
Secara intelektual mencerdaskan dan memberikan keterampilan, serta 4) Secara
sosial melatih kemandirian dan menjadi anak warga negara Indonesia yang baik.
Sejalan dengan visi dan misi pendidikan di atas, maka tujuan
pendidikan dapat dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan manusia seutuhnya,
yaitu manusia yang tergali, terbina dan terlatih potensi intelektual,
spiritual, emosional, sosial dan fisiknya, sehingga dapat menolong dirinya,
masyarakat, bangsa dan negaranya. Dengan kata lain, bahwa tujuan pendidikan
adalah membentuk manusia yang seutuhnya (insan kamil).
Dengan demikian, hakikat pendidikan adalah mengaktualisasikan
segenap potensi manusia, atau memanusiakan manusia, yaitu mengaktualisasikan segenap
potensi yang dimiliki manusia tersebut sehingga tampak sebagai identitas,
kepribadian, dan karakter dirinya. Hal ini sejalan dengan ungkapan yang sering
dikatakan misalnya: “Ia sudah jadi orang”. Artinya bahwa ia telah berhasil
mengaktualisasikan segenap potensi yang dimilikinya, sehingga ia menjadi orang
yang berpendidikan tinggi, menguasai teknologi dan keterampilan, senantiasa
bersyukur kepada Allah, memiliki kepedulian terhadap lingkungan alam dan
lingkungan sosialnya, serta menjalankan peran dan fungsinya sebagai khalifah di
muka bumi. Dengan cara demikian ia menjadi orang yang memiliki semuanya, dan
sejahtera hidupnya.
2.
Kurikulum Pendidikan
Sejalan dengan konsep manusia, maka muatan kurikulum yang harus
diberikan kepada peserta didik adalah mata pelajaran yang terkait dengan
pengembangan intelektual dan keterampilan, materi yang terkait dengan
pengembangan spiritual, materi yang terkait dengan pengembangan emosional,
materi yang terkait dengan pengembangan kecerdasan sosialnya, serta materi yang
terkait dengan pembinaan fisiknya.
Sehubungan dengan berbagai materi tersebut, maka berbagai macam
mata pelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik adalah mata pelajaran
yang terkait dengan pengembangan intelektual, seperti mata pelajaran logika, matematika,
fisika dan berbagai ilmu pengetahuan alam lainnya. Selanjutnya berkenaan dengan
materi yang terkait dengan pengembangan spiritual maka kepadanya diberikan
pelajaran agama, khususnya yang berkaitan dengan keimanan, ibadah dan tasawuf.
Adapun materi yang terkait dengan pengembangan emosional antara lain, mata
pelajaran tentang estetika, sastra, akhlak mulia, khususnya tentang ajaran
simpati dan empati. Selanjutnya, materi yang terkait dengan pengembangan
kecerdasan dan keterampilan dapat diberikan mata pelajaran tentang olahraga
dengan berbagai macamnya; mata pelajaran tentang keterampilan dengan berbagai
ragamnya, seperti keterampilan mengoperasikan komputer, keterampilan membuat
laporan, keterampilan melaksanakan kegiatan kepanitian, keterampilan menggunakan
berbagai peralatan teknologi dan sebagainya. Sedangkan materi pelajaran yang
berkaitan dengan kemandirian, kepedulian, kepekaan dan kepedulian sosial, dapat
diberikan materi tentang pengabdian kepada masyarakat, pengembangan desa
binaan, kuliah kerja sosial (SKS), bakti sosial, dan lain sebagainya.
Selain itu, kajian terhadap konsep manusia sebagaimana tersebut di
atasa juga dapat digunakan sebagai salah satu asas dalam penyusunan mata
pelajaran dalam kurikulum, yaitu asas psikologis. Dengan asas ini, maka setiap
kurikulum atau mata pelajaran yang dicantumkan dalam kurikulum, hendaknya
mempertimbangkan kondisi psikologis peserta didik, yaitu mempertimbangkan
tingkat usia, bakat, minat, kecerdasan, dan motivasi peserta didik. Mata
pelajaran matematika, bahasa atau mata pelajaran lainnya untuk tingkat
Ibtidaiyah misalnya harus berbeda dengan mata pelajaran untuk tingkat
Tsanawiyah, Aliyah dan seterusnya.
3.
Metode Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah kegiatan interaksi dan
komunikasi antara guru dan murid dalam rangka menyampaikan ilmu pengetahuan,
wawasan dan sebagainya. Proses belajar mengajar yang baik adalah proses belajar
mengajar yang menyenangkan, menggairahkan, mencerahkan, dan efektif. Untuk
diperlukan pemahaman terhadap karakter jiwa anak didik. Pemahaman terhadap
konsep jiwa manusia sangat membantu dalam merumuskan konsep metode proses
belajar mengajar. Di dalam psikologi misalnya dijumpai aliran nativisme yang
menekankan pada segi-segi pembawaan yang dibawa sejak lahir; aliran empirisme
yang menekankan pengaruh lingkungan; dan aliran yang menekankan perpaduan
antara pengaruh dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar. Dari berbagai
teori tersebut maka akan lahir metode dan pendekatan dalam belajar mengajar.
Dari teori nativisme, akan lahir pendekatan belajar yang berpusat pada guru (teacher
centris), dengan menggunakan metode ceramah, teladan, bimbingan dan
nasihat. Dari teori empirisme, akan lahir pendekatan yang berpusat pada murid (student
centris) dengan metodenya seperti pemecahan masalah, penemuan, penugasan,
dan sebagainya. Selanjutnya dari teori konvergensi akan lahir pendekatan yang
menekankan keseimbangan antara keaktifan guru dan murid dengan metodenya
seperti tanya jawab, diskusi, seminar, dan sebagainya. Dengan demikian,
penentuan metode dalam kegiatan proses belajar mengajar ini amat dipengaruhi
oleh konsep tentang jiwa manusia.
4.
Kompetensi Guru
Kompetensi
guru adalah istilah yang mengacu kepada kecakapan atau kemampuan para guru yang
mendukung pelaksanaan tugasnya. Secara profesional, kompetensi guru meliputi
kompetensi akademik/profesional yang terkait bidang keahlian ilmu yang akan
diajarkannya, kompetensi pedagogik yang terkait dengan kemampuan menyampaikan
ilmu tersebut secara efektif dan efisien; kompetensi kepribadian yang terkait
dengan akhlak dan kepribadian guru; dan kompetensi sosial yang terkait dengan
kemampuan guru dalam membangun komunikasi, interaksi dan kerja sama dengan
masyarkat, serta mendayagunakannya untuk keperluan pendidikan. Dengan berbagai
kompetensi tersebut, maka seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya secara
profesional. Konsep kompetensi guru ini ternyata juga berkaitan dengan konsep
manusia manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan intelektual, kecerdasan
emosional, kecerdasan sosial dan keterampilan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
1.
Menurut pandangan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an manusia
digambarkan dengan istilah al-insan, al-basyar, dan al-naas.
2.
Filsafat Pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk yang
memiliki potensi baik. Potensi ini harus dikembangkan sedemikian rupa, agar
manusia tetap berada dalam kebaikannya melalui pendidikan.
3.
Ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan pendidikan.
Karena dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu
pengetahuan untuk bekal dan kehidupannya.
4.
Terdapat hubungan konsep manusia dengan berbagai komponen pendidikan,
terutama dalam perumusan visi, misi, tujuan dan hakikat pendidikan, kurikulum
dan materi pendidikan, proses belajar mengajar, kompetensi tenaga pendidik, dan
peserta didik.
B.
Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih jauh dari
kesempurnaan, sehingga penulis mengharapkan adanya kritikan dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Diharapkan kepada mahasiswa
selanjutnya lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan daya pikirnya kedepan
untuk memajukan pemikiran pendidikan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Nata,
Abuddin. 2013. Pemikiran Pendidikan Islam & Barat. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Suharto, Toto.
2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Zuhairini, dkk.
1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: BUMI AKSARA.