Minggu, 02 Oktober 2016

Makalah Pemikiran Pendidikan Islam ( Hubungan Alam dalam pendidikan )



BAB I
PENDAHULUAN

            Islam merupakan ajaran agama yang tidak menerima pertentangan dan juga pemisahan antara kehidupan rohaniyah atau keduniawian, antara akal dan hati juga antara ilmu dan amal. Justru dari beberapa hal di atas merupakan beberapa aspek yang memang harus dikaji oleh umat. Dalam peradaban umat islam telah dijumpai berbagi macam pemikiran yang berkembang dalam islam masing-masing mempunyai corak tertentu. Ada 3 konsep pemikiran yakni Tuhan, Alam, dan manusia. Sudah menjadi keyakinan umat Islam, Allah adalah pencipta dan Alam semsta Adalah ciptaan-Nya. Namun banyak perbedaan pendapat dalam memahami penciptaan. Para pemikir islam seperti filosof islam, ilmu pengetahuan islam, dan manurut agama islam itu sendiri berbeda pendapat tentang penciptaan alam jagat raya ini. Maka dari itu pemakalah akan membahas salah satu konsep pemikiran yakni pemikiran pendidikan islam yang berbasis Alam jagat raya.

Rumusan Masalah
1.      Apa itu Alam?
2.      Apa saja teori yang membahas tentang Alam ?
3.      Bagaimana hubungan pendidikan dengan Alam?

Tujuan Masalah
1.      Mengetahui apa itu Alam.
2.      Mengetahin teori-teori yang membahas tentang Alam.
3.      Mengetahui bagaimana hubungan Alam dalam pendidikan.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Alam
Istilah alam disini dalam arti alam semesta, jagat raya, yang dalam bahasa inggris diistilahkan dengan arti universe dan dalam bahasa arab yakni عالم . ‘alam dalam al-Quran tidak sama dengan istilah ‘alam yang dimaksud kaum teolog dan kaum filosof islam. Kaum teolog mendefinisikan ‘alam ialah segala sesuatu selain Allah. Sementara kaum filosof islam mendefinisikanya ialah kumpulan jauhar yang tersusun dari maddat (materi) dan shurat (bentuk) yang ada di bumi dan di langit. Sedangkan ‘alam yang dimaksudkan Al-Quran,  sebagai kumpulan yang sejenis dari makhluk tuhan yang berakal atau memiliki sifat-sifat yang mendekati makhluk yang berakal. Arti ini didasarkan pada kata ‘alamin yang menunjukkan muzzakar yang berakal. Sebab itu dikenal alam malaikat, alam manusia, alam jin, alam tumbuhan dan lainnya, tetapi tidak dikenal istilah alam batu dan alam tanah.[1]
B.     Teori tentang Alam Jagat Raya
Menurut Murthada Muthahari ada tiga konsepsi tentang alam semesta: ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama.
1.       konsepsi alam jagat raya menurut ilmu pengetahuan ini merupakan buku purba, yang halaman pertama dan terakhirnnya sudah hilang atau tidak diketahui. Menurut  ilmu pengetahuan ciri-ciri alam ini berubah-ubah hari ke hari, karena ilmu pengetahuan didasarkan pada perpaduan teori dan eksperimen, bukan didasarkan pada kebenaran rasional yang jelas. Ilmu pengetahuan tak dapat memberikan  gambaran umum tentang alam semesta. Ilmu pengetahuan hanya menjelaskan sebagian kecil tentang alam semesta yaitu bagian yang hanya dapat diobservasi dan diuji coba.[2] Dalam menjelaskan proses penciptaan alam semesta, kosmologi modern berpegang kepada teori big bang (ledakan besar), menurut teori ini alam semesta sebelumnya teremas yang kemudia sekitar 15 milyar tahun yang lalu meledak, pecah berkeping-keping dengan dahsyatnya. Pecahan inilah yang akan menjadi atom, bintang-bintang, galaksi-galaksi bergerak saling menjauh dan akan terus bergerak. Pandangan di atas diperkuat oleh hasil observasi radio astronomi Arno Prnzias berkebangsaan amerika serikat menemukan bahwa gelombang mikro mendatangi bumi dari segala penjuru alam semesta yangtersisa dari peristiwa big bang.[3]
2.       konsepsi alam semesta menurut filsafat tidak bersifat terperinci dan spesifik. Menurut Al-Farabi seorang filsuf dan Ibnu Sina sependapat alam jagat raya adalah diciptakan oleh Alah Swt. Melalui teori emanasi (pancaran), menurut Al-Farab, bahwa Allah sebagai Wujud I berpikir tentang diri-Nya, dan dari hasill pemikiran-Nya itu timbullah wujud II akal I, wujud II akal I berpikir tentang Tuhan lahirlah Wujud III akal II, dan ketika berpikir tentang dirinya, maka lahirlah langit pertama. Wujud II akal II berpikir tentang tuhan lahirlah wujud IV akal III, berpikir tentang Tuhan lahirlah wujud V akal IV, dan ketika berpikir tentang diirinya maka lahirlah saturnus, wujud V akal IV berpikir tentang Tuhan, lahirlah wujud VI akal V, dan keetika berpikir tentang dirinya lahirlah Jupiter. Wujud VI akal V berpikir tentang Tuhan lahirlah wujud VII akal VI, dan ketika berpikir tentang dirinya maka lahirlah Mars. Wujud VII akal VI berpkir tentang Tuhan, lahirlah wujud VIII akal VII, dan ketika berpikir tentang dirinya lahirlah matahari. Wujud VIII akal VII berpikir tentang Tuhan lahirlah wujud IX akal VIII dan ketika berpikir tentang dirinya lahirlah pluto, wujud IX akal VIII berpikir tentang dirinya lahirlah mercury. Wujud X akal IX berpikir tentang Tuhan lahirlah wujud XII akal x, dan ketika berpikir tentang dirinya lahirlah bulan selanjutnya dari akal X ini muncul bumi dan materi asal terajdinya makhluk yaitu air, udara, api, dan tanah, dari empat materi asal ini lahir (benda benda keras, seperti gunung, batu, dan sebagainya), nabatiyat (tumbuh-tumbuhan), hayawaniyah (binatang), dan insaniyah (manusia). Melalui emanasi tersebut terdapat beberapa catatan sebagai berikut:
a.       alam jagat raya yang terdiri dari planet-planet, materi asal yang kemudian menjadi benda-benda keras, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia itu adalah diciptakan oleh Allah Swt, melalui proses berfikir.
b.      alam jagat raya itu amat beragam dan kaya jenisnya yang semua itu amat dibutuhkan manusia
c.       di dalam konsep emanasi tersebut terdapat filsafat tentang wujud, yakni wujudlah yang menyebabkan esensi tentang sesuatu menjadi tampak dalam realita. Wujud tersebut dibagi menjadi tiga. Wajib al-wujud seperti adanya alam mesti ada yang menciptakan, mumkin al-wujud yakni sesuatu yang boleh ada boleh tidak misalnya manusia, mustahil wujud, yakni jika sesuatu yang telah ada di suatu tempat, maka mustahil ia akan ada di tempat lain dalam waktu yang bersamaan. Walaupun filsafat tidak menjelaskan dengan detail tentang alam jagat raya, namun ia sudah menggambarkan alam raya tersebut secara keseluruhan dan saling berkaitan.[4]
Ibnu Rusydi berpendapat tentang Alam Akhirat, menurutnya ada Alam yang qadim yakni alam akhirat yaitualam lain yang leebih tinggi dari padaalam dunia, untuk memahami cara berbangkit di akhirat nanti, maka itu tergantung atas tingkat ilmu yang dimiliki seseorang. Orang umum berpendapat bahwa berbangkit itu dengan tubuh kasarnya. Orang khusus hanya dengan rohaninya saja.[5]
3.      Konsep alam raya menurut agama islam, jauh lebih lengkap dibandingkan dengan konsepsi alam menurut ilmu pengetahuan dan filsafat. Islam tidak hanya menggambarkan alam jagat raya dari segi jenis dan macamnya, melainkan juga dari segi proses penciptaannya, sifat dan karakter yang dimilikinya, maksud dan tujuan penciptaannya.
Al-Quran menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan alam adalah segala sesuatu yang selain Allah atau segala sesuatu yang diciptakan Allah. Menurut islam alam jagat raya bukan hanya planet-planet, jamadat, nabatiyah, hayawaniyat dan insaniyat melainkan juga alam ghaibat, seperti alam akhirat, alam kubur, surga, neraka, malaikat, jin, setan, dan sebagainya. Macam dan ragam alam dalam islam jauh lebih lengkap.
Dari segi proses penciptaannya Al-Quran menyatakanbahwa langit dan bumi pada mulanya adalah satu kesatuan, lalu dipecahkan, dan pecahan tersebut saling menjauh membentuk planet-planet, dan segenap benda-benda alam lainnya. Hal ini dinyatakan dalam QS. Al-Ambiyat  21:30[6]

Dalam surat Al-Anbiyat diatas disajikan informasi pokok tentang alam (al-sama’) dan materi (al-ardh) yang sebelum dipisahkan adalah sesuatu yang padu. Kemudian dibicarakan pula tentang air (al-ma’) yang dari padanya dijadikan segala sesuatu yang hidup. [7]

Selain itu Al-Quran menyatakan: jika Allah menghendaki sesuatu maka jadilah. Berkenaan dengan ayat ini ada dua pendapat, pertama, penciptaan dari segala sesuatu yang tidak ada, kedua penciptaan dari sesuatu yang ada yakni penciptaan dari materi asal (air, udara, api dan tanah)yang selanjutnya menjadi tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Hal ini dipahami dalam firmannya QS Yaa Siin 36:82 :

Pada ayat lain Allah menyatakan: Dialah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi dalam waktu enam hari. Firmannya dalamQS Al-Ma’arij 70:4

Dari segi sifat, dan karakternya, Islam menginformasikan tentang alam dengan amat lengkap, dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.       Patuh dan Tunduk kepada Allah
Alam jagat raya patuh dan tunduk pada hukum yang ditetapkan Tuhan didalamnya (sunatullah). Misalnya, tubuh fisik manusia, tunduk pada hukum pertumbuhan, mulai dari sperma, ovum, janin, lahir sebagai bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, usia lanjut dan akhirnya mati. Demikian pula benda-benda ruang angkasa: bulan, bintang, matahari, dan sebagainya berjalan menurut hukum yang ditetapkan Tuhan.
b.      Memiliki ukuran yang pasti
Alam  raya memiliki ukuran yang berbeda antarra satu dan lainna. Misalnya tinggi badan, ukuran jemari, panjang gigi, hidung, dan sebagainya.
c.       Dapat dimanfaatkan Manusia
Manusia dapat memanfaatkan jagat raya tersebut untuk keperluannya misalnya manusia dapat menmanfaatkan panas matahari, tegana panas bumi,  dan sebaginnya.
d.      Berubah pada setiap waktu
Alam jagat raya berubah berkembang yakni apa yang ada dilangit dan bumi.
e.       Memiliki sifat dan karakter
Alam jagat raya memiliki karrakter. Pohon pisang misalnya karakter sebelum mati harus berubah dan memelihara keturunan, batangnya digunakan untuk tali, daunnya untuk bungkus kue-kue, jantungnya enak dimakan, getahnya untuk mengobati luka, dan buahnya enak dan bergizi.
f.       Selalu Memberi Manfaat pada Manusia
Alam selalu memberi manfaat pada manusia dan ia tidak diciptakan secara sia-sia. Allah Swt berfirman dalam QS Ali Imran 3:190-191
g.      Senantiasa Bertasbih kepada Allah.
Alam semesta senantiasa bertasbih kepada Allah Swt, namun manusia tidak mengerti cara alam bertasbih.
h.      Alam Akan Rusak Binasa
i.        Saling berhubungan
Saling berhubungannya alam misalnya tumbuh-tumbuhan amat bergantung kepada kesuburan tanah, dan tumbuh-tumbuhan itu juga dapat mempersuburkan tanah.

Selanjutnya dari segi fungsi dan kedudukannya, alam jagat raya memiliki fungsi dan kedudukan sebagai berikut.
a.       Sebagai Bukti Kekuasaan Allah Swt.
b.      Sebagai Sumber Kehidupan Manusia
c.       Sebagai Objek kajian Ilmupengetahuan
d.      Sebagai Pendukung Ayat-ayat Al-Qur’an
e.       Sebagai Bahan Perumusan Konsep Tauhid

C.     Hubungan Alam dan Pendidikan
1.      Visi pendidikan yang berbasis alam adalah menjadikan pendidikan sebagai sarana yang unggul terdepan dan strategis dalam memberikan kemampuan kepada masyarakat dalam memberdayakan segenap potensi alam secara cerdas, cermat, bijaksana, dan amanah, sehingga dapat menimbulkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak ekosistem lingkungan.
2.      Misi pendidikan yang berbasis alam adalah : memperkenalkan alam semesta, memberikan keterampilan dan kemampuan dalam mengelola alam, memberikan kemampuan dan keterampilan dalam mengelola alam, memberi keterampilan dalam memelihara dan melestarikan alam semesta, memberikan pemahaman yang mendalam berdasarkan petunjuk Al-Quran dan al-Sunnah yang menunjukkan bahwa alam sebagai ciptaan Allah Swt. Dan alat yang digunakan untuk mengenal dan bersyukur bersyukur kepada-Nya.
3.      Proses belajar mengajaryang berbasis alam tidak hanya terbatas di dalam kelas melainkan memanfaatkan juga alam lingkungan sekitar. Ketika mengajar mata pelajaran fisika, kimia, biologi, kebudayaan, dan lainnya dengan mengajak peserta didik untuk memanfaatkan alam jagat raya.
4.      Dalam merancang lingkungan pendidikan yang berbasis alam dilakukan dengan cara memilih lingkungan yang paling tepat untuk mendukung kegiatan belajar. Hal ini didasarkan kepada kenyataan [8]













BAB III
KESIMPULAN
Kaum teolog mendefinisikan ‘alam ialah segala sesuatu selain Allah. Sementara kaum filosof islam mendefinisikanya ialah kumpulan jauhar yang tersusun dari maddat (materi) dan shurat (bentuk) yang ada di bumi dan di langit. Sedangkan ‘alam yang dimaksudkan Al-Quran,  sebagai kumpulan yang sejenis dari makhluk tuhan yang berakal atau memiliki sifat-sifat yang mendekati makhluk yang berakal.
Menurut  ilmu pengetahuan ciri-ciri alam ini berubah-ubah hari ke hari, karena ilmu pengetahuan didasarkan pada perpaduan teori dan eksperimen, bukan didasarkan pada kebenaran rasional yang jelas.
menurut filsafat tidak bersifat terperinci dan spesifik. Menurut Al-Farabi seorang filsuf dan Ibnu Sina sependapat alam jagat raya adalah diciptakan oleh Alah Swt. Melalui teori emanasi (pancaran).
menurut agama islam, jauh lebih lengkap dibandingkan dengan konsepsi alam menurut ilmu pengetahuan dan filsafat. Islam tidak hanya menggambarkan alam jagat raya dari segi jenis dan macamnya, melainkan juga dari segi proses penciptaannya, sifat dan karakter yang dimilikinya, maksud dan tujuan penciptaannya.









DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, (2013), Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, Jakarta: rajawali Pers.
Kahar Masyhur, (1989), Pemikiran dan Modernisme dalam Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Sirajuddin Zar, (1994), konsep penciptaan alam dalam pemikiran islam sains dan al-Quran,          PT Jakarta: RajaGrafindo Persada.




[1]               Sirajuddin Zar, konsep penciptaan alam dalam pemikiran islam sains dan al-Quran, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada 1994), hal.19-20.
[2] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: rajawali Pers 2013), hal.
[3]  Ibid, Sirajuddin Zar, hal. 145-147
[4] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: rajawali Pers 2013), hal.
[5] Kahar Masyhur, Pemikiran dan Modernisme dalam Islam, (Jakarta: Kalam Mulia 1989), Hal. 99-100
[6] Ibid, Abuddin Nata, Hal.
[7] Sirajuddin Zar, konsep penciptaan alam dalam pemikiran islam sains dan al-Quran, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada 1994), hal. 128
[8] Abuddin Nata, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: rajawali Pers 2013), hal.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Makalah Pemikiran Pendidikan Islam 2



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Terdapat sejumlah pemikiran yang melatarbelakangi perlunya mengkaji filsafat manusia dalam hubungannya dengan pendidikan. Para ahli telah banyak menyelidiki manusia dari berbagai sudut dan segi, yang menghasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan tentang manusia, seperti sosiologi, psikologi, agama, filsafat, dan lain-lain. Dari hasil kajian para ahli dalam berbagai bidang tentang manusia tersebut menghasilkan berbagai kesimpulan yang selanjutnya digunakan untuk menjadi dasar bagi lahirnya berbagai konsep, termasuk konsep pendidikan Islam.
Terkait dengan hal itu, makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang konsep manusia serta hubungannya dengan pendidikan dalam pemikiran Islam. 

B.       Rumusan Masalah
Sebagaimana dipaparkan dalam gambaran umum di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep manusia dalam pandangan Islam?
2.      Bagaimana pandangan Islam mengenai potensi manusia?
3.      Bagaimana pandangan Islam tentang pendidikan?
4.      Apa saja hubungan konsep manusia dengan berbagai komponen pendidikan?

C.      Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui seperti apa konsep manusia dalam pandangan Islam.
2.      Untuk mengetahui bagaimana potensi manusia dalam pandangan Islam.
3.      Untuk mengetahui bagaimana  pendidikan dalam pandangan Islam.
4.      Untuk mengetahui hubungan antara konsep manusia dengan berbagai komponen pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN


A.      MANUSIA MENURUT ISLAM
Sebagai agama yang bersifat sempurna, seimbang, dan berdasarkan pada dalil naqli (wahyu) dan hadis Nabi Muhammad Saw., serta ijma ulama dan qiyas (pemikiran) atau menghargai akal pikiran dan usaha manusia, Islam dapat mempertimbangkan seluruh pendapat tentang manusia dengan beberapa catatan sebagai berikut.
Pertama, Islam mengakui, bahwa proses penciptaan manusia terjadi melalui proses atau evolusi, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
$yg•ƒr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# bÎ) óOçFZä. ’Îû 5=÷ƒu‘ z`ÏiB Ï]÷èt7ø9$# $¯RÎ*sù /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 5>#tè? §NèO `ÏB 7pxÿõÜœR §NèO ô`ÏB 7ps)n=tæ ¢OèO `ÏB 7ptóôÒ•B 7ps)¯=sƒ’C ÎŽöxîur 7ps)¯=sƒèC tûÎiüt7ãYÏj9 öNä3s9 4 ”É)çRur ’Îû ÏQ%tnö‘F{$# $tB âä!$t±nS #’n<Î) 9@y_r& ‘wK|¡•B §NèO öNä3ã_̍øƒéU WxøÿÏÛ ¢OèO (#þqäóè=ö7tFÏ9 öNà2£‰ä©r& ( Nà6ZÏBur `¨B 4†¯ûuqtGムNà6ZÏBur `¨B –Štãƒ #’n<Î) ÉAsŒö‘r& ̍ßJãèø9$# Ÿxø‹x6Ï9 zNn=÷ètƒ .`ÏB ω÷èt/ 8Nù=Ïæ $\«ø‹x© 4 “ts?ur šßö‘F{$# Zoy‰ÏB$yd !#sŒÎ*sù $uZø9t“Rr& $ygøŠn=tæ uä!$yJø9$# ôN¨”tI÷d$# ôMt/u‘ur ôMtFt6/Rr&ur `ÏB Èe@à2 £l÷ry— 8kŠÎgt/ ÇÎÈ  
5. Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.
Namun, evolusi penciptaan manusia menurut Islam sangat jauh berbeda dengan teori evolusi manusia menurut Charles Darwin. 1) Menurut Islam, bahwa evolusi kejadian manusia tersebut bukan berasal dari jenis makhluk lainnya seperti benda zat renik, tumbuh-tumbuhan dan binatang. Penciptaan manusia berasal dari zat yang satu yakni turab (tanah), nuthfah (air mani), alaqah (air mani laki-laki dan perempuan yang sudah bercampur dan menempel dalam dinding rahim), mudghah (segumpal daging), idzam (tulang), dan lahm (daging) yang kemudian diberi ruh oleh Allah. Manusia bukan berasal dari kera, karena hingga saat ini tidak pernah ada kera yang berubah jadi manusia. Kalaupun di dalam Al-Qur’an ada sekelompok Bani Israil yang disebut sebagai kera, namun kera yang dimaksud Al-Qur’an itu adalah kera dalam arti karakternya, yaitu serakah, tidak mengenal halal dan haram, serta perbuatan tercela lainnya. 2) Menurut Islam bahwa proses perubahan dari satu tahap ke tahap lain tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ada peran Tuhan sebagai agen yang melakukan dan menggerakan perubahan tersebut. Hal ini berbeda dengan teori Darwin yang mengatakan, bahwa perubahan tersebut terjadi dengan sendirinya. Dalam hubungan ini, dalam teori Darwin terdapat mata-rantai yang terputus (missing-link), yaitu menghilangkan peran Tuhan sebagai agen perubahan. 3) Dalam Islam manusia bukan hanya terdiri dari unsur fisik (jasmani), melainkan juga terdapat unsur ruhani, yaitu ruh yang dihembuskan Tuhan, dan inilah yang selanjutnya manusia dari makhluk Tuhan lainnya, dan ini pula yang menyebabkan manusia menjadi makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya, dan ini pula yang menyebabkan manusia akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Tuhan di akhirat nanti.
Kedua,  Islam mengakui atau menerima pendapat para sosilog yang mengatakan, bahwa manusia sebagai makhluk sosial, atau makhluk yang keberadaan dan keberlangsungan hidupnya membutuhkan keberadaan orang lain. Hal ini dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut.
$pkš‰r'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  
13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
(#qçRur$yès?ur ’n?tã ÎhŽÉ9ø9$# 3“uqø)­G9$#ur ( Ÿwur (#qçRur$yès? ’n?tã ÉOøOM}$# Èbºurô‰ãèø9$#ur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇËÈ  
2. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Namun demikian, Islam sebagai ajaran yang bersifat seimbang, di samping mengakui manusia sebagai makhluk sosial, juga sebagai makhluk individual. Sebagai makhluk sosial ia selain harus memerhatikan kepentingan sendirinya, juga harus memerhatikan kepentingan masyarakat, ia tidak boleh mengorbankan kepentingan dirinya. Intinya adalah bahwa Islam mengajarkan tentang manusia yang seimbang, yaitu manusia yang memiliki kesalehan individual dan kesalehan sosial.
Ketiga, Islam dapat menerima pendapat para psikolog yang menyatakan bahwa manusia dipengaruhi oleh bakat dan kemampuan yang dibawanya sejak lahir, dan juga pengaruh dari lingkungan. Namun, Islam tidak menerima pendapat yang bersifat antagonistik, pragmentatif, dan dikotomis. Pada teori daya mental sebagaimana terlihat pada aliran nativisme yang dikembangkan oleh Arthur Schopenhauer, misalnya hanya mengakui pengaruh dari dalam atau dari bawaan. Sedangkan pengaruh dari luar dianggap tidak ada fungsinya. Sebaliknya pada teori behaviorisme yang dikembangkan oleh John Locke misalnya hanya mengakui pengaruh dari luar, dan mengabaikan atau tidak mengakui faktor pembawaan. Selanjutnya, pada teori konvergensi  yang dikembangkan oleh William Stern mengakui pendapat dari dalam dan dari luar. Islam tampaknya sejalan dengan teori konvergensi, dan telah banyak yang berpendapat sejalan dengan konvergensi tersebut dengan merujuk pada hadis Nabi yang mengatakan bahwa “setiap yang dilahirkan telah membawa fitrah beragama, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan anak menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. Namun sebenarnya, ketiga teori tersebut kurang sejalan dengan Islam, karena di dalam ketiga teori tersebut tidak ada Tuhannya, atau hanya bersifat anthropocentris. Islam menganut ideologi pendidikan yang berbasis pada humanisme teocentris. Yaitu memadukan usaha manusia dan peran Tuhan. Dalam hubungan ini, Islam menggambarkan mendidik itu seperti orang yang bertani, yang selain bergantung pada pada bibit yang unggul dan bermutu (nativisme), dan tanah yang subur, cuaca yang mendukung, air yang cukup, pupuk yang memadai, cara menanam yang baik, dan merawat yang telaten, juga membutuhkan ketentuan Tuhan. Bahwa bibit yang unggul dan tanah yang subur dan lainnya belum dapat menjamin bahwa tanaman tersebut akan tumbuh subur dan berbuah. Semua itu masih membutuhkan kehendak Allah. Dalam hubungan ini Allah Swt. berfirman, yang artinya: Tidakkah kamu perhatikan apa yang kamu tanam? Kamukah yang menyebabkan tanaman tersebut tumbuh dan berbuat atau Aku? (QS Al-Waaqi’ah, 56: 63-64). Jawabannya mesti yang menentukan tanaman tersebut tumbuh dan berbuah itu amat tergantung juga pada kehendak Allah Swt. atas dasar pandangan dan keyakinan yang serupa itu, maka seseorang tidak dapat mengklaim, bahwa keberhasilan pertanian tersebut hanya karena usahanya sendiri. Keberhasilan tersebut juga atas izin Allah Swt. dalam hubungan inilah, maka di dalam Surat Luqman dinyatakan, bahwa ketika Luqman berhasil mendidik anknya, dan anaknya itu hampir saja menomorduakan Tuhan dalam hal menyatakan terima kasih, maka Allah Swt. menyatakan: hendaknya engkau terlebih dahulu berterima kasih kepada-Ku, setelah itu barulah berterima kasih kepada kedua orang tuamu (an usykur liy waliwa lidaika = hendaknya engaku bersyukur kepada-Ku, dan kepada kedua orang tuamu).
Dengan mengacu kepada ayat-ayat Al-Qur’an dan al-Hadits tersebut, informasi tentang manusia dapat diperoleh lebih lengkap lagi. Di dalam Al-Qur’an, manusia digambarkan dengan istilah al-insan, al-basyar dan al-naas. Istilah insan dipakai Al-Qur’an dalam kaitan dengan berbagai kegiatan manusia antara lain untuk kegiatan belajar; tentang musuhnya, penggunaan waktunya, beban amanat yang dipikulnya, konsekuensi usaha perbuatannya, keterkaitan dengan usaha peternakan, kegiatan pelayaran, pendayagunaan logam besi, akibat perubahan sosial, kepemimpinan, tantangan ruang angkasa, menjalankan ibadah, dan adanya kehidupan akhirat.
Selanjutnya istilah al-basyar dipakai untuk menggambarkan dimensi fisik, jasad atau raga manusia, seperti kulit tubuh manusia, untuk menunjuk pada penegasan bahwa Nabi juga adalah manusia seperti pada umumnya, yaitu makan dan minum, untuk menunjukkan pada hubungan laki-laki dan perempuan atau persetubuhan, untuk menunjukkan manusia pada umumnya, untuk menyatakan proses penciptaannya dari tanah, dan akhirnya akan menemukan kematian. Semua penggunaan kata al-basyar dalam Al-Qur’an menunjuk pada gejala umum yang tampak pada fisiknya, atau lahiriahnya yang secara umum antara satu dengan lainnya mempunyai persamaan-persamaan.
Adapun kata al-naas dipakai Al-Qur’an untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat yang mempunyai berbagai kegiatan untuk mengembangkan kehidupannya. Berbagai kegiatan tersebut antara lain disebutkan menyelenggarakan kegiatan peternakan, mendayagunakan kekuatan besi, melakukan perubahan sosial, melaksanakan tugas sebagai pimpinan, dan melaksanakan ibadah.[1]

B.       FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TENTANG PENGEMBANGAN POTENSI MANUSIA
Pandangan Islam memiliki implikasi bahwa seandainya seorang manusia dibiarkan saja tidak menerima pendidikan maka ia dengan sendirinya akan menjadi baik, sebab manusia diciptakan Tuhan dengan dibekali potensi kebaikan. Lain halnya apabila manusia itu menerima pendidikan, pendidikanlah yang dipandang sebagai faktor pengaruh dan penentu, apakah ia menjadi manusia baik atau buruk.
Permasalahannya adalah bahwa setiap manusia tidak dapat melepaskan dirinya dari faktor lingkungan. Lingkungan pendidikan, entah itu lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat senantiasa akan memengaruhi potensi baik manusia. Di sinilah letak pentingnya pendidikan bagi pengembangan potensi manusia. Potensi baik manusia tidak akan berguna kalau tidak digunakan dan dikembangkan melalui pendidikan. Potensi itu laksana segenggam emas dalam perut bumi, tidak ada gunanya kalau tidak digali dan diolah demi kepentingan umat manusia.
Tugas utama pendidikan sesungguhnya adalah mengubah (transform) potensi-potensi manusia menjadi kemampuan-kemampuan atau keterampilan-keterampilan yang dapat dimanfaatkan manusia. Potensi intelektual misalnya, tidak ada guna nya kalau hanya disimpan di kepala. Ia akan menjadi berguna manakala sudah diubah, melalui proses pendidikan, menjadi penemuan-penemuan ilmiah dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Penemuan-penemuan ini pada dasarnya merupakan cerminan atau hasil olahan dari upaya pengembangan potensi intelektual manusia yang dulunya tersembunyi.
Berbagai lembaga pendidikan yang berfungsi khusus mengembangkan potensi intelektual manusia kiranya telah berhasil membekali manusia dengan penemuan-penemuan tertentu. Hingga kini, lembaga-lembaga itu berhasil mentransformasikan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda, agar mereka tetap dapat survive. Pendidikan pada hakikatnya bermaksud menyelamatkan dunia dari kehancuran yang tidak wajar. Dewasa ini telah muncul suatu fenomena yang perlu dicermati dengan serius. Pendidikan model Barat, pada satu sisi, telah dapat mengeksploitasi potensi intelektual manusia sebesar-besarnya sehingga melahirkan teknologi yang canggih. Namun pada sisi yang lain, pendidikan model Barat yang mereka laksanakan telah melupakan aspek moral dan spiritual yang ada pada diri manusi. Akibatnya, mereka berhasil menciptakan manusia modern yang hidup dalam dunia teknologi, tetapi jiwa mereka dihinggapi dan dilanda suatu krisis yang disebut dengan krisis moral-spiritual. Jiwa mereka hampa dari nilai-nilai seyogianya menjadi dasar bagi kehidupan mereka. Mereka itu pandai, tetapi pada hakikatnya adalah bodoh karena berprilaku tanpa moral dan brutal. Mereka itu kaya, tetapi sesungguhnya mereka itu miskin, karena kekayaannya diperoleh melalui jalan yang tidak halal. Itulah hasil dari proses pendidikan yang mengabaikan aspek moral.
Pendidikan Islam sesungguhnya merupakan solusi. Solusi bagi penyakit yang menimpa manusia modern. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dibangun atas dasar fitrah manusia. Pendidikan Islam senantiasa bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan, dan kepekaan tubuh manusia. Pendidikan Islam oleh karenanya selalu berusaha menyediakan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspek, yaitu spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik baik secara individual maupun secara kolektif, dan memotivasi semua aspek ini untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan hidup manusia.
Demikianlah Filsafat Pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi baik (fitrah). Potensi ini harus dikembangkan sedemikian rupa, agar manusia tetap berada dalam kebaikannya, atau bahasa agama menyebutnya hanif. Upaya pengembangan ini merupakan tugas utama pendidikan Islam. Jadi, pada intinya mendidik menurut Islam adalah usaha mempertahankan posisi manusia agar tetap dalam keadaan fitrah. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat senantiasa dikondisikan dengan sengaja agar manusia tetap dalam potensi baiknya.[2]

C.      PANDANGAN ISLAM TENTANG PENDIDIKAN
Agama Islam adalah agama yang universal. Yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan duniawi dan ukhrawi.
Salah satu di antara ajaran Islam adalah, mewajibkan kepada umat Islam untuk melaksanakan pendidikan. Karena menurut ajaran Islam, pendidikan merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dan kehidupannya.
Lebih-lebih Islam merupakan agama ilmu dan agama akal. Karena Islam selalu mendorong umatnya untuk mempergunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan, agar dengan demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan aman yang salah, dapat menyelami hakikat alam, dapat menganalisa segala pengalaman yang telah dialami oleh umat-umat yang telah lalu dengan pandangan ahli-ahli filsafat yang menyebut manusia sebagai Homo sapiens, yaitu sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan, dan dengan dasar itu manusia ingin selalu mengetahui dengan apa yang ada disekitarnya. Bertolak dari itu pula manusia dapat dididik dan diajar.
Apabila kita memperhatikan ayat-ayat yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, maka nyatalah bahwa Allah telah menekankan perlunya orang belajar baca tulis dan belajar ilmu pengetahuan.
Firman Allah dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5.
ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah.
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589].
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
Dari ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa agama Islam mendorong umatnya agar menjadi umat yang pandai, dimulai dengan belajar baca tulis dan diteruskan dengan belajar berbagai macam pengetahuan.
Islam di samping menekankan kepada umatnya untuk belajar juga menyuruh umatnya untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Jadi Islam mewajibkan umatnya belajar dan mengajar. Melakukan proses belajar dan mengajar adalah bersifat manusiawi, yakni sesuai dengan harkat kemanusiaannya, sebagai makhluk Homo educandus, dalam arti manusia itu sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik.[3]
Sabda Nabi.
تَعَلَّمُوْا وَعَلِّمُوْا وَتَوَاضَعُوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيِّنُوْا لِمُتَعَلِّمِيْكُمْ {رواه الطبراني} 
Artinya: Belajarlah dan kemudian ajarkanlah kepada orang-orang lain, serta rendahkanlah dirimu kepada guru-gurumu, serta berlaku lemah lembutlah kepada murid-muridmu.   (HR. At-Thabrani).[4]

D.      HUBUNGAN FILSAFAT MANUSIA DENGAN BERBAGAI KOMPONEN PENDIDIKAN
Hubungan antara konsep manusia dengan berbagai komponen pendidikan ini dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.
1.        Visi, Misi, Tujuan, dan Hakikat Pendidikan
Visi adalah jawaban dari pertanyaan kita akan menjadi apa? (what are will becoming?) sedangkan misi adalah jawaban atas pertanyaan apa yang akan dikerjakan? (what are will doing?) kemudian tujuan adalah jawaban dari pertanyaan apa yang akan kita capai? (what are to achieve?), dan hakikat adalah pertanyaan dari pertanyaan apakah esensi masalah tersebut? (what the essence of it?).
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan dengan mengacu kepada penjelasan tentang manusia dengan berbagai potensinya, maka visi pendidikan adalah perkembangan pembangunan yang berkelanjutan (education for sustainable development). Visi ini sejalan dengan konsep manusia sebagai makhluk budaya yang memiliki cita, rasa dan karsa. Dengan mengembangkan pembangunan yang berkelanjutan atau penciptaan kebudayaan yang berkelanjutan, maka akan dapat merasakan manfaat dari pendidikan tersebut. Untuk mengukurnya, ada tiga pilar yang bisa digunakan. Pilar pertama, lembaga pendidikan seharusnya memberikan anak didiknya pengetahuan seputar profesi ke mana setelah lulus? Bekerja sebagai apa? Hingga berapa kira-kira gaji yang akan didapat? Dengan cara ini,  anak dapat secara ekonomis memperhitungkan masa depannya. Anak tidak boleh mempunyai cita-cita yang tidak bisa menjamin kesejahteraan hidupnya. Pilar kedua adalah kebudayaan dan kemanusiaan. Sebuah lembaga pendidikan seharusnya mampu membuat anak didik berkebudayaan, berdemokrasi, dan menjunjung hak asasi manusia yang kini ditegakkan dunia. Karakter ini bisa tercermin dari hal kecil. Dalam mengambil keputusan strategis misalnya, maka sekolah yang baik akan melibatkan anak didik dan orangtuanya. Pilar ketiga adalah ekologi dan lingkungan. Sebuah lembaga pendidikan seharusnya menangkap semangat zaman yang sangat memerhatikan kondisi bumi. Artinya, penggunaan energi harus dibatasi, informasi seputar penyakit seperti HIV/AIDS disampaikan, dan pengetahuan mengenai pemanasan global diberikan.
Jika visi dicermati secara seksama, tampak sangat dipengaruhi oleh konsep manusia, yaitu sebagai makhluk yang harus bekerja dengan bekal pengetahuan dan keterampilan, harus mengembangkan cita, rasa dan karsanya dengan berbudaya, memberikan perhatian dan kepedulian terhadap lingkungannya, serta sebagai makhluk yang harus memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual.
Sejalan dengan visi tersebut, maka yang harus dilakukan untuk menuju tercapainya visi tersebut adalah: 1) Mendekatkan diri anak secara spiritual kepada Allah Swt., sehingga ia memiliki tujuan hidup sebagai ibadah kepada-Nya, serta memiliki cita-cita dan tujuan hidup jangka panjang, kehidupan yang bermakna, serta senantiasa merasa diawasi oleh Allah Swt., senantiasa bersyukur dan ikhlas dalam menjalani kehidupan, baik dalam keadaan suka maupun duka. 2) Secara emosional membuat anak mempunyai kepribadian yang matang dan akhlak mulia. 3) Secara intelektual mencerdaskan dan memberikan keterampilan, serta 4) Secara sosial melatih kemandirian dan menjadi anak warga negara Indonesia yang baik.
Sejalan dengan visi dan misi pendidikan di atas, maka tujuan pendidikan dapat dirumuskan sebagai usaha untuk mewujudkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang tergali, terbina dan terlatih potensi intelektual, spiritual, emosional, sosial dan fisiknya, sehingga dapat menolong dirinya, masyarakat, bangsa dan negaranya. Dengan kata lain, bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang seutuhnya (insan kamil).
Dengan demikian, hakikat pendidikan adalah mengaktualisasikan segenap potensi manusia, atau memanusiakan manusia, yaitu mengaktualisasikan segenap potensi yang dimiliki manusia tersebut sehingga tampak sebagai identitas, kepribadian, dan karakter dirinya. Hal ini sejalan dengan ungkapan yang sering dikatakan misalnya: “Ia sudah jadi orang”. Artinya bahwa ia telah berhasil mengaktualisasikan segenap potensi yang dimilikinya, sehingga ia menjadi orang yang berpendidikan tinggi, menguasai teknologi dan keterampilan, senantiasa bersyukur kepada Allah, memiliki kepedulian terhadap lingkungan alam dan lingkungan sosialnya, serta menjalankan peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Dengan cara demikian ia menjadi orang yang memiliki semuanya, dan sejahtera hidupnya.
2.        Kurikulum Pendidikan
Sejalan dengan konsep manusia, maka muatan kurikulum yang harus diberikan kepada peserta didik adalah mata pelajaran yang terkait dengan pengembangan intelektual dan keterampilan, materi yang terkait dengan pengembangan spiritual, materi yang terkait dengan pengembangan emosional, materi yang terkait dengan pengembangan kecerdasan sosialnya, serta materi yang terkait dengan pembinaan fisiknya.
Sehubungan dengan berbagai materi tersebut, maka berbagai macam mata pelajaran yang harus diberikan kepada peserta didik adalah mata pelajaran yang terkait dengan pengembangan intelektual, seperti mata pelajaran logika, matematika, fisika dan berbagai ilmu pengetahuan alam lainnya. Selanjutnya berkenaan dengan materi yang terkait dengan pengembangan spiritual maka kepadanya diberikan pelajaran agama, khususnya yang berkaitan dengan keimanan, ibadah dan tasawuf. Adapun materi yang terkait dengan pengembangan emosional antara lain, mata pelajaran tentang estetika, sastra, akhlak mulia, khususnya tentang ajaran simpati dan empati. Selanjutnya, materi yang terkait dengan pengembangan kecerdasan dan keterampilan dapat diberikan mata pelajaran tentang olahraga dengan berbagai macamnya; mata pelajaran tentang keterampilan dengan berbagai ragamnya, seperti keterampilan mengoperasikan komputer, keterampilan membuat laporan, keterampilan melaksanakan kegiatan kepanitian, keterampilan menggunakan berbagai peralatan teknologi dan sebagainya. Sedangkan materi pelajaran yang berkaitan dengan kemandirian, kepedulian, kepekaan dan kepedulian sosial, dapat diberikan materi tentang pengabdian kepada masyarakat, pengembangan desa binaan, kuliah kerja sosial (SKS), bakti sosial, dan lain sebagainya.
Selain itu, kajian terhadap konsep manusia sebagaimana tersebut di atasa juga dapat digunakan sebagai salah satu asas dalam penyusunan mata pelajaran dalam kurikulum, yaitu asas psikologis. Dengan asas ini, maka setiap kurikulum atau mata pelajaran yang dicantumkan dalam kurikulum, hendaknya mempertimbangkan kondisi psikologis peserta didik, yaitu mempertimbangkan tingkat usia, bakat, minat, kecerdasan, dan motivasi peserta didik. Mata pelajaran matematika, bahasa atau mata pelajaran lainnya untuk tingkat Ibtidaiyah misalnya harus berbeda dengan mata pelajaran untuk tingkat Tsanawiyah, Aliyah dan seterusnya.
3.        Metode Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar pada dasarnya adalah kegiatan interaksi dan komunikasi antara guru dan murid dalam rangka menyampaikan ilmu pengetahuan, wawasan dan sebagainya. Proses belajar mengajar yang baik adalah proses belajar mengajar yang menyenangkan, menggairahkan, mencerahkan, dan efektif. Untuk diperlukan pemahaman terhadap karakter jiwa anak didik. Pemahaman terhadap konsep jiwa manusia sangat membantu dalam merumuskan konsep metode proses belajar mengajar. Di dalam psikologi misalnya dijumpai aliran nativisme yang menekankan pada segi-segi pembawaan yang dibawa sejak lahir; aliran empirisme yang menekankan pengaruh lingkungan; dan aliran yang menekankan perpaduan antara pengaruh dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar. Dari berbagai teori tersebut maka akan lahir metode dan pendekatan dalam belajar mengajar. Dari teori nativisme, akan lahir pendekatan belajar yang berpusat pada guru (teacher centris), dengan menggunakan metode ceramah, teladan, bimbingan dan nasihat. Dari teori empirisme, akan lahir pendekatan yang berpusat pada murid (student centris) dengan metodenya seperti pemecahan masalah, penemuan, penugasan, dan sebagainya. Selanjutnya dari teori konvergensi akan lahir pendekatan yang menekankan keseimbangan antara keaktifan guru dan murid dengan metodenya seperti tanya jawab, diskusi, seminar, dan sebagainya. Dengan demikian, penentuan metode dalam kegiatan proses belajar mengajar ini amat dipengaruhi oleh konsep tentang jiwa manusia.
4.        Kompetensi Guru
Kompetensi guru adalah istilah yang mengacu kepada kecakapan atau kemampuan para guru yang mendukung pelaksanaan tugasnya. Secara profesional, kompetensi guru meliputi kompetensi akademik/profesional yang terkait bidang keahlian ilmu yang akan diajarkannya, kompetensi pedagogik yang terkait dengan kemampuan menyampaikan ilmu tersebut secara efektif dan efisien; kompetensi kepribadian yang terkait dengan akhlak dan kepribadian guru; dan kompetensi sosial yang terkait dengan kemampuan guru dalam membangun komunikasi, interaksi dan kerja sama dengan masyarkat, serta mendayagunakannya untuk keperluan pendidikan. Dengan berbagai kompetensi tersebut, maka seorang guru akan dapat melaksanakan tugasnya secara profesional. Konsep kompetensi guru ini ternyata juga berkaitan dengan konsep manusia manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan keterampilan.[5]


                                 












                                                  
BAB III
PENUTUP

A.      Simpulan
1.      Menurut pandangan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an manusia digambarkan dengan istilah al-insan, al-basyar, dan al-naas.
2.      Filsafat Pendidikan Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi baik. Potensi ini harus dikembangkan sedemikian rupa, agar manusia tetap berada dalam kebaikannya melalui pendidikan.
3.      Ajaran Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan pendidikan. Karena dengan pendidikan itu pula manusia akan mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk bekal dan kehidupannya.
4.      Terdapat hubungan konsep manusia dengan berbagai komponen pendidikan, terutama dalam perumusan visi, misi, tujuan dan hakikat pendidikan, kurikulum dan materi pendidikan, proses belajar mengajar, kompetensi tenaga pendidik, dan peserta didik.

B.       Saran
Dalam penulisan makalah ini  penulis merasa masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis mengharapkan adanya kritikan dari para pembaca  demi kesempurnaan makalah ini. Diharapkan kepada mahasiswa selanjutnya lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan daya pikirnya kedepan untuk memajukan pemikiran pendidikan Islam.






DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin. 2013. Pemikiran Pendidikan Islam & Barat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Zuhairini, dkk. 1994. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: BUMI AKSARA.






[1] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), cet. 2, hlm. 77-84
[2] Dr. Toto Suharto, M. Ag, Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2011), hal. 88-90
[3] Dra. Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: BUMI AKSARA, 1994), hal.98-99

[4] Ibid., hal. 101
[5] Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA, Pemikiran Pendidikan Islam & Barat, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), cet. 2, hlm. 86-92